Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 05 Oktober 2010

Beberapa Flora dan Fauna Langka

Flora

1. Bunga Raflesia (Raflesia arnoldi)

Bunga Rafflesia hidup di Tama Nasional Bengkulu, mempunyai ukuran dengan diameter bunga yang hampir mencapai 1 meter. Bunga ini terkenal dengan sebutan bunga bangkai karena mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga digunakan untuk menarik lalat yang hinggap dan membantu penyerbukan. Raflesia Arnoldi merupakan tumbuhan parasit yang memerlukan inang untuk hidupnya. Saat ini kondisi habitat Raflesia Arnoldi sangat memprihatinkan sehingga jumlahnya menurun drastis dari tahun ke tahun. Menyusutnya habitat bunga tersebut di antaranya disebabkan kegiatan manusia seperti pembukaan wilayah hutan baik untuk kegiatan pertambangan, pertanian, maupun permukiman.


2. Anggrek Pensil (Vanda hookeriana)
Vanda hookeriana berdaun silinder (pensil) , bunga besar lebih dari 5 cm. Seperti vanda pensil lainya bertype monopodial dan terestrial. Tumbuh di daerah hangat dan menyukai sinar matahari penuh (daerah terbuka).
Vanda ini banyak ditemukan di lahan lebak vietnam, Semenanjung Malaya, Thailand, Sumatra dan Kalimantan dekat pantai semi hutan dataran rendah. Vanda hookeriana berbunga pada musim semi dan musim panas.
Di Indonesia, terutama didaerah Bengkulu, Vanda ini banyak tumbuh di kawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) dalam kawasan Cagar Alam Dusun Besar (CADB).  Populasinya hampir punah akibat habitatnya rusak terbakar saat musim kemarau. Bunga langka itu awalnya  banyak tumbuh disekitar Danau Dendam Tak Sudah tersebut.  Akibat kerusakan kawasan hutan cagar alam dibagian hulu, debit air danau turun drastis pada musim kemarau, padahal anggrek yang punya nilai jual tinggi tersebut menumpang pada bunga bakung (crinum asiaticum). Bunga bakung tersebut banyak mati akibat surutnya permukaan air danau dan terbakarnya dimusim kemarau.
Kabar gembira datang dari BKSDA Bengkulu yang berhasil membudidaya dan memperbanyak vanda hookeriana. Menurut  Supartono Kabag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu  "Anggrek pensil (Vanda hookeriana) itu awalnya ditemukan beberapa batang pada habitatnya di kawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) kemudian dibudidayakan,"
Awalnya, bunga langka itu ditemukan hanya tujuh batang, sekarang sudah berkembang menjadi 400 batang dan tumbuh cukup baik seperti alami. Rencananya vanda hookeriana akan dikembalikan di habitatnya di kawasan Cagar Alam Dusun Besar sekitar DDTS. 

  
3. Edelweiss jawa (Javanese edelweiss)
Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss), adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka.
Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.
Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.
Sayangnya keserakahan serta harapan-harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan-jalan setapak. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.


4. Kantong Semar (Nepenthes sp
 
Kantong semar atau dalam bahasa latinnya Nepenthes sp (dalam bahasa Inggris disebut Tropical pitcher plant) adalah Genus tanaman yang termasuk dalam famili monotipik. Tanaman yang terdiri atas sedikitnya 103 spesies ini mempunyai keunikan karena hampir seluruhnya merupakan tanaman karnivora, pemakan daging. Selain karnivora juga memiliki keunikan pada bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Karenanya tidak sedikit orang yang memeliharanya. Namun keberadaan Kantong semar (Nepenthes) di habitat aslinya justru terancam kepunahan. Bahkan juni 2009 silam, LIPI mengumumkan beberapa spesies Kantong semar (untuk menghindari perburuan, nama spesiesnya dirahasiakan) sebagai tanaman paling langka di Indonesia.
Tumbuhan ini mampu hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, pegunungan, hutan gambut, hutan meranggas, gunung kapur hingga padang savana. Tumbuhan sebagian besar hidup secara empifit, yaitu menempel pada batang atau dahan pohon lain dengan panjang batang mencapai hingga 20 meter. Sementara Kantong semar yang hidup di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dengan panjang batang kurang dari 2 meter.
Pada umumnya, tumbuhan karnivora ini memiliki sulur pada ujung daunnya. Sulur ini dapat termodofikasi membentuk kantong yaitu alat perangkap yang digunakan untuk menangkap memangsanya seperti serangga dan kodok. Kantong ini sendiri secara keseluruhan terdiri atas lima bentuk, yaitu tempayan, oval, silinder, corong dan pinggang.

 5. Cendana (Santalum album)
Santalum album adalah pohon tropis kecil dari keluarga Santalaceae, yang paling umum dikenal sumber kayu cendana. Spesies ini telah digunakan, dibudidayakan dan diperdagangkan selama bertahun-tahun, beberapa budaya sangat penting menempatkan pada wangi dan kualitas jamu. Untuk alasan ini itu telah banyak dieksploitasi, ke titik di mana penduduk liar rentan terhadap kepunahan. Perintah masih harga tinggi untuk minyak esensial, namun karena kurangnya pohon-pohon yang cukup besar itu tidak lagi digunakan untuk fine woodworking seperti sebelumnya. Tanaman ini banyak dibudidayakan dan lama tinggal, meskipun panen adalah layak setelah 40 years.The tinggi dari pohon cemara adalah antara 4 dan 9 meter. Mereka dapat hidup sampai seratus tahun. Pohon adalah variabel dalam kebiasaan, biasanya tegak untuk luas, dan dapat jalin-menjalin dengan spesies lain. Parasitises tanaman akar dari jenis pohon lain, dengan adaptasi haustorium akar sendiri, tetapi tanpa kerugian besar kepada tuan rumah. Seorang individu akan membentuk hubungan non-wajib dengan sejumlah tanaman lain. Sampai 300 spesies (termasuk sendiri) dapat host perkembangan pohon – macronutrients memasok fosfor, nitrogen dan potasium, dan bayangan – terutama selama fase awal pembangunan. Mungkin menyebarkan dirinya melalui suckering kayu selama pengembangan awal, mendirikan berdiri kecil. Cokelat kemerahan atau kulit kayu dapat hampir hitam dan halus di pohon-pohon muda, menjadi retak dengan mengungkapkan merah. The heartwood adalah hijau menjadi putih pucat sebagai nama umum menunjukkan. Daunnya tipis, berlawanan dan ovate untuk berbentuk pisau pembedah dalam bentuk. Glabrous permukaan mengkilap dan hijau cerah, dengan pucat sayu sebaliknya. Buah yang dihasilkan setelah tiga tahun, layak benih setelah lima. Bibit ini didistribusikan oleh burung.

6. Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum)
Bunga ini tumbuh di kawasan Taman Wisata/Cagar Alam Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Adapun penemu pertama jenis bunga ini adalah Odoardo Beccari seorang pakar botani, berkebangsaan Italia. Ketika itu, tahun 1878, dalam perjalanannya di Kepahiang Rejang Lebong (Bengkulu) ia menemukan tumbuhan bunga bangkai. Kemudian oleh rekannya Prof. Giovanni Arcaneli dari Turin, diberi nama ilmiah Amorphophallus titanum Beccari. Bunga bangkai lebih dikenal dengan sebutan Suweg Raksasa. Bau bunga menimbulkan kesan tidak enak, seolah-olah bau bangkai yang busuk. Banyak yang mengidentikannya dengan bunga bangkai yang satu lagi yaitu Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi). Padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat prinsipil, yaitu :
1. Dalam hal bentuk, Amorphophallus titanum berbentuk kerucut seperti jagung yang masih berbalut, sedangkan Rafflesia arnoldi berbentuk bundar melebar.
2. Amorphophallus titanum termasuk dalam suku Aristolochiaceae dan merupakan tumbuhan monokotil, sedangkan Rafflesia arnoldi termasuk dalam suku Rafflesiaceae dan merupakan tumbuhan dikotil.
3. Biang Amorpohophallus titanum adalah umbi yang tertanam didalam tanah. Sedangkan Rafflesia arnoldi merupakan tumbuhan parasit yang tumbuh pada akar-akar liana dan menyebarkannya terutama adalah babi hutan yang tidak sengaja melukai akar liana dengan injakan. Pada injakan bekas kuku babi hutan itulah spora rafflesia tersimpan dan menemukan tempat yang cocok untuk tumbuh.


Fauna

1. Orangutan (Pongo pygmaeus)
Orang utan atau juga dikenal dengan nama Mawas adalah jenis kera besar yang mempunyai ciri tidak berbuntut, bertelinga kecil dan hidung kecil serta kepala berbentuk buah peer. Bulunya panjang dan lembut berwarna coklat kemerahan dengan tangan yang panjang dan kuat.Orang utan sangat unik dan bersifat arboreal, yaitu menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya diatas pohon dan jarang sekali turun ketanah. Mereka bergerak dengan bergantungan dari satu dahan kedahan yang lain.Orang utan juga dikenal sebagai satwa yang suka menyendiri (soliter) walaupun terkadang berkelompok terutama pada waktu menjelajah atau mencari makanan. Menurut tempat hidupnya secara alami, Orang utan dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan Orang utan Sumatera (Pongo pygmaeus abelli). Orang utan Sumatera hidup tersebar di hutan-hutan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara khususnya dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
2. Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) dan badak bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis).
Badak merupakan hewan paling langka dan paling terancam punah. Mempunyai masa hidup 33 tahun dengan panjang kira-kira 2,5 m dan tinggi 1,3 m. Badak termasuk hewan mamalia yang mengalami perkembangbiakan yang lama, dalam satu tahun hanya dapat melahirkan anak 1-2 individu. Perkembangbiakannya pun dapat berlangsung jika kondisi lingkungannya stabil. Badak bercula satu ditemukan didaerah ujung kulon Banten sedangkan Badak bercula dua habitat aslinya di Taman Nasional Kerinci Seblat Sumatera. Populasi Badak kian hari semakin menurun karena banyaknya pemburuan liar untuk mengambil culanya.

3. Cendrawasih (Paradisaea minor)
Cendrawasih Kuning-kecil atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea minor adalah sejenis burung pengicau Paradisaea. Burung ini berwarna kuning dan coklat, berparuh abu-abu kebiruan dan mempunyai iris mata berwarna kuning. Burung jantan dewasa memiliki bulu di sekitar leher berwarna hijau zamrud mengkilap, pada bagian sisi perut terdapat bulu-bulu hiasan yang panjang berwarna dasar kuning dan putih pada bagian luarnya. Di ekornya terdapat dua buah tali ekor berwarna hitam. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, memiliki kepala berwarna coklat tua, dada berwarna putih dan tanpa dihiasi bulu-bulu hiasan. berukuran sedang, dengan panjang sekitar 32cm, dari genus
Populasi Cendrawasih Kuning-kecil tersebar di hutan Irian Jaya dan Papua Nugini. Burung ini juga ditemukan di pulau Misool, provinsi Irian Jaya Barat dan di pulau Yapen, provinsi Papua.
Cendrawasih Kuning-kecil adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Kuning-kecil terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.
Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Cendrawasih Kuning-kecil dievaluasikan sebagai Beresiko Rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES
Appendix II.
BxZ Paradisaea minor 04.jpg

 4. Komodo (Varanus komodoensis)
Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadalKomodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. terbesar di dunia yang hidup di pulau
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena bes
Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

5.  Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatra di Indonesia, merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.
Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.
Harimau Sumatra adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatra mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198cm dan berat 200 pound atau sekitar 91kg. Belang Harimau Sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit Harimau Sumatra merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
Harimau Sumatra hanya ditemukan di pulau Sumatra. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau Sumatra mengalami ancaman akan kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dimana seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

6. Penyu hijau (Chelonia mydas)
Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.
 

Usaha yang Dilakukan untuk Mencegah Kepunahan Flora dan Fauna
 
Agar tidak terjadi kepunahan maka pemerintah beserta instansi terkait melakukan usaha untuk mencegah terjadinya kepunahan dengan beberapa cara, antara lain:

  1. Menetapkan suakamargasatwa sebagai tempat untuk melindungi hewan tertentu terutama yang sudah langka.  
  2. Membuat cagar alam sebagai tempat perlindungan dan pelestarian hewan, tumbuhan, tanah dan air.
  3. Membuat hutan lindung sebagai tempat untuk melindungi air/daerah resapan air karena dihutan dengan tumbuhan yang menutupinya jika terjadi hujan maka air akan tertahan dan diserap tanah.
  4. Inseminasi Buatan adalah perkembangbiakan pada hewan dengan cara menyuntikkan sperma dari hewan jantan pada hewan betina. Inseminasi buatan ini biasa dilakukan pada hewan mamalia terutama yang hampir punah karena jumlahnya di alam bebas yang semakin sedikit. Tidak semua orang dapat melakukan inseminasi buatan, biasanya dilakukan oleh dokter hewan di suatu lembaga pelestarian, misalnya kebun binatang.
  5. Kultur Jaringan, Kultur jaringan adalah perkembangbiakan tumbuhan dengan cara memperbanyak sel tumbuh (jaringan) menjadi tumbuhan baru. Media tempat menumbuhkan sel tumbuh (jaringan) dikenal dengan media agar-agar yang telah ditambahkan beberapa unsur hara yang diperlukan tumbuhan.  
  6. Berpartisipasi dalam pelestarian makhluk hidup Pelestarian makhluk hidup bukan tanggung jawab pemerintah saja namun kita sebagai manusia dan makhluk Tuhan harus ikut menjaga kelestarian makhluk hidup dan lingkungannya. Apa saja yang kita dapat lakukan untuk melestarikan lingkungan dan makhluk hidup? Kita mulai dari lingkungan terkecil, misalnya rumah dan tempat tinggal kita dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Pemeliharaan hewan tertentu oleh pribadi misalnya memelihara orang utan, burung yang termasuk langka sebaiknya tidak dilakukan melainkan kita serahkan kepada lembaga yang bertugas menjaga kelestarian lingkungan misalnya kebun binatang. Memperbanyak jenis hewan tertentu yang biasa kita gunakan sebagai sumber makanan misalnya dengan berternak ayam, sapi. Kesadaran manusia akan pentingnya keseimbangan alam diharapkan sekali dalam usaha pelestarian makhluk hidup. Pemburuan liar yang dilakukan untuk menangkap hewan harus di hindari dan didukung dengan cara tidak membeli hewan langka dan bagianbagian hewan tersebut. Dengan demikian usaha penjualan hewan langka menjadi terhenti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar